Menghitung Sendiri Biaya Renovasi Rumah

Memperkirakan biaya renovasi rumah memang tidak mudah. Tapi bukan berarti Anda tidak bisa menghitungnya sendiri.

Saat merenovasi rumah, biaya menjadi hal yang sensitif. Pasalnya, semua seolah terkait dengan biaya, mulai dari desain, kualitas bahan, waktu pengerjaan, sampai upah tukang. Belum lagi anggaran yang membengkak tak terkendali saat pelaksanaan. Ini bukan berarti Anda harus pasrah menerima “kebiasaan” renovasi yang seperti itu.

Menghitung biaya renovasi merupakan salah satu cara agar anggaran tidak membengkak. Mengapa demikian? Karena saat perencanaan, biasanya Anda tidak memiliki gambaran mengenai seberapa banyak bahan yang dipakai. Bahan yang dikira hanya butuh sedikit, tidak tahunya perlu berulang-ulang menambah, dan sebalikya. Dengan menghitung sendiri biaya renovasi—yang pasti menghitung kebutuhan bahan dan tukan—setidaknya Anda punya gambaran berapa banyak biaya yang Anda keluarkan. Syukur-syukur, dengan ketelitian Anda, biaya yang tidak perlu bisa dihemat.

Perbanyak Wawasan

Sebelum melakukan renovasi, Anda pasti menjadi sering melihat-lihat model atap, dinding, pagar, atau apa saja yang nantinya hendak Anda renovasi. Memperkaya diri dengan berbagai desain rumah tinggal sangat membantu saat proses perencanaan. Ketika Anda harus bertemu kontraktor atau tukang yang akan membangun, Anda dengan jelas bisa menggambarkan yang Anda mau. Urusan desain ini bisa Anda percayakan sepenuhnya kepada kontraktor, jika ia menyediakan jasa semacam itu. Tentu desain ini berpengaruh pada biaya renovasi nantinya. Semakin rumit biasanya semakin mahal. Nah, dengan memperkaya diri dengan pengetahuan, Anda bisa mengusahakan desain mana yang tepat guna tapi terjangkau.

Bahan-bahan bangunan baru semakin banyak saja jumlahnya. Mereka pun hadir disertai keunggulannya tersendiri. Misalnya, ada sejenis batu bata buatan setipis buku tulis yang wujudnya mirip batu alam, ada bahan pengganti gipsum yang tak kalah cantik namun yang tahan air, serta palapis atap dari fiber yang sangat kuat. Wawasan seperti ini juga perlu, siapa tahu jika dihitung-hitung, ternyata pemakaian bahan hasil inovasi tersebut lebih irit?

Jangan Tergoda

Namanya renovasi, yang notabene tujuannya memperbaiki rumah, pekerjaannya pasti tidak sebanyak pekerjaan pembangunan total dari awal. Karena itu untuk memulai sebuah proyek renovasi, menurut Yohanes …, seorang kontraktor, “Kenali dulu bangunan Anda.” Maksudnya di sini adalah perhatikan apa saja yang masih kurang pada rumah Anda, apa saja yang perlu ditambahkan, atau mana-mana saja yang butuh perbaikan.

Dalam merenovasi tak jarang awalnya hanya ingin memperbaiki sebagian kecil rumah Anda saja, akhirnya hampir separo rumah ikut-ikutan dibongkar. Misalnya, niat hati ingin memperbaiki plafon yang berjamur, tetapi setelah dilihat-lihat, ternyata dengan plafon yang bersih mulus seperti itu, dinding jadi tampak kusam. Balok ekspos pun tampaknya jadi “kebanting” dengan putihnya cat plafon baru. Secara tidak sadar, dinding pun ikut berganti wajah dan balok ekspos pun dicat ulang.

Contoh di atas pasti tidak asing lagi, bukan? Menurut Yohanes, usahakan hanya yang kurang sajalah yang diperbaiki atau ditambah. Intinya jangan tergoda dengan keinginan mengubah yang lain yang di luar anggaran. “Dengan demikian, anggaran tidak membengkak,” ujarnya.

Satuan Pekerjaan

Menghitung biaya renovasi boleh dibilang gampang-gampang susah. Rumus baku sebenarnya sudah tersedia, tetapi dalam penghitungannya banyak komponen yang harus diperhatikan dan dikerjakan secara teliti. Hasil perhitungan yang ngikuti sebuah rumus kadangkala juga kurang akurat. Bagi kontraktor yang berpengalaman, biasanya biaya renovasi bisa dihitung langsung secara kira-kira, misalnya per m2 dikenakan biaya Rp 1,5 juta.

Secara garis besar biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan rumah terdiri atas biaya bahan bangunan dan upah tukang. Untuk mempermudah perhitungan, biaya-biaya tersebut dibagi-bagi berdasarkan urut-urutan pekerjaannya. Jadi, misalnya, memasang pondasi, memasang bata, atau memasang plafon merupakan pekerjaan sendiri. Sebuah proyek renovasi bisa terdiri dari satu jenis pekerjaan, bias juga terdiri dari beberapa pekerjaan, terutama jika proyek renovasinya besar.

Dalam perhitungannya, setiap pekerjaan dihitung volume atau luasannya. Jika yang dihitung volume, maka satuan pekerjaannya dalam meter kubik (m3), yang merupakan hasil panjang x lebar x tinggi. Sedangkan jika luas yang menjadi patokan, maka menggunakan satuan meter persegi (m2), yang merupakan hasil panjang x lebar. Pekerjaan-pekerjaan yang dihitung volumenya misalnya, pemasangan pondasi, baik pondasi batu kali atau cor beton, pengecoran balok, serta pengecoran kolom (tiang). Yang dihitung luasnya adalah pekerjaan pemasangan bata, langit-langit, atap, dan pengecatan.

Rumus Perhitungan

Untuk menghitung kebutuhan bahan bangunan dan tenaga tukang, volume atau luas pekerjaan dikalikan dengan koefisien. Koefisien adalah sebuah angka yang besarnya sudah ditetapkan. Hasilnya langsung keluar sebagai banyaknya bahan bangunan dan ongkos tukang yang dipakai dalam satuannya masing-masing. Misalnya, pasir dalam satuan m3 (meter kubik), kayu dalam satuan m (meter), paku dalam satuan kg (kilogram), dsb. Untuk jelasnya mengenai koefisien, perhatikan contoh berikut yang diambil dari buku Menghitung Anggaran Biaya Bangunan oleh Zainal A.Z.:

Pekerjaan pengecatan dinding sekaligus plamur.

Cat tembok       0,325 kg

Cat plamur       0,12 kg

Tukang cat       0,08

Kenek             0,16 (jika diperlukan)

Pekerjaan memasang ubin keramik 40 x 40 cm

Ubin                    6,5

Semen portland          0,223 sak

Semen putih             0,015 sak

Pasir                   0,018 m3

Tukang batu             0,276

Kenek Pembantu tukang)       0,274 (jika diperlukan)

Nah, angka-angka desimal tersebut merupakan koefisien. Misalnya untuk pekerjaan pengecatan ruangan dengan ukuran 3 m x 3 m, misalnya, membutuhkan bahan bangunan dan tenaga tukang sebanyak:

Luas dinding di keempat sisi ruangan: 4 x (3 x 3) = 36 m2

Cat tembok       0,325 kg    x 36 = 11,7 kg

Cat plamur       0,12 kg    x 36 = 4,32 kg

Tukang cat       0,08 orang x 36 = 2,88 ~ 3 orang

Cara yang sama diterapkan juga untuk pekerjaan-pekerjaan lainnya, mulai memasang pondasi, memasang bata, sampai memasang atap. Tentu saja walaupun pekerjaannya sama, koefisien yang digunakan bebeda. Umpamanya saat menghitung biaya pekerjaan dinding. Pemasangan bata untuk dinding bisa menggunakan adukan semen dengan berbagai macam perbandingan. Ada yang perbandingan semen dan pasirnya 1:5, 1:4, atau 1:3, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokasi pembangunan. Dengan demikian, koefisien untuk semen dan pasir pun akan turut berubah.

Cara Sederhana

Jika Anda ingin menghitung lebih rinci, cara di atas bisa dipakai, tentunya dengan bantuan daftar koefisien yang banyak terdapat di buku-buku. Namun, menurut Yohanes, kadang untuk perkiraan kasar, orang lebih mudah menggunakan hitungan seperti berikut:

Pemasangan dinding 1 m2 butuh:

-          70 bata

-          9 m3 pasir (ditambah waste 2%)

-          1 m3 adukan butuh 4-6 sak semen (tergantung perbandingan adukannya)

-          1 tukang dan 1 kenek mampu memasang 8 m2 dinding per hari

Upah tukang saat ini:

-          Tukang batu (yang baik) Rp 35.000/hari

-          Tukang kayu Rp 40.000/hari

-          Kenek Rp 20.000 – 25.000/hari

 

Berikut sebagian kecil pedoman perhitungan yang juga umum dipakai, sesuai tarif sekarang:

Memasang keramik lantai (ukuran 30x30cm):

1 tukang, 1 kenek

8-10 m2/hari

Memasang keramik dinding:

2 tukang, 3-4 kenek

4-6 m2/hari

Membuat adukan semen:

- tergantung perbandingan adukan 1:5, 1:4, atau 1:3

1 m3 adonan: 1,2 m3 pasir dan 6 sak

- untuk dinding dengan adukan sedang: 1m3 butuh 4-6 sak

Memasang bata:

1 tukang, 1 kenek

8 m2/hari.

per hari batasnya 1-1,5 m

Perhitungan kasar ini, walaupun sederhana, tetapi sulit memperkirakan biaya renovasi yang agak spesifik. Jenis-jenis pekerjaan yang tersedia sangat terbatas dan kebanyakan berupa pekerjaan yang standar, seperti memasang bata dan mengecat saja. Sementara itu upah tukang secara kira-kira, biasanya sebesar 20-30 % dari biaya total bahan bangunan. Biaya total ini merupakan penambahan keseluruhan pekerjaan yang tercakup dalam proyek renovasi.

Harga Bahan

Setelah berhitung dan didapatkan jumlah bahan bangunan, untuk menghitung biaya yang dikeluarkan Anda harus mengalikannya lagi dengan harga masing-masing bahan bangunan. Harga bahan bangunan memang sering naik-turun dan selalu berubah. Karenanya, usahakan mendapat informasi harga yang terbaru.

“Untuk mengetahui harga bahan bangunan secara lengkap, tersedia “Jurnal” Harga Satuan Bahan Bangunan dan Konstruksi,” ujar Yohanes. Buku ini juga yang menjadi panduannya dalam bekerja saat ini. Jurnal yang memuat harga bahan bangunan seantero Indonesia ini diterbitkan setiap 3 bulan sekali. Anda bisa mendapatkannya di toko-toko buku.

Namun, jika Anda merasa tidak terlalu perlu membeli jurnal yang setebal buku telepon tersebut, Anda bisa mengetahui harga pasaran dengan rajin berkunjung ke toko-toko bangunan. Sering-seringlah bertanya bukan saja mengenai harga, tetapi juga mengenai kualitas sebuah bahan bangunan.

Tidak Selalu Tepat

Meskipun mirip rumus matematika atau fisika, hasil perhitungan jumlah bahan bangunan dan biaya yang dibutuhkannya kadang tidak tepat 100%. Dalam pembangunan, biasanya ada yang disebut dengan waste (sisa). Waste ini gunanya sebagai cadangan jika ada kesalahan atau hal-hal yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan pembangunan. Misalnya, saat pemasangan lantai, ubin keramiknya ada yang pecah, saat pembangunan dinding, batu batanya ada yang patah, dsb.

Pada awal perhitungan dengan menggunakan koefisien, jumlah waste sudah masuk ke dalam hitungan. Sedangkan jika dihitung secara kasar, jumlah waste biasanya 2-3% dari total bahan yang dipakai. Namun, karena wujud dan satuannya berbeda, jumlah waste yang dihasilkan tidak bisa dipukul rata. Untuk ubin keramik, misalnya, yang dijual per kardus, lebihannya juga dihitung per kardus (untuk menutup 1 m2 lantai). Lain lagi dengan paku yang dijual kiloan, atau cat yang dijual kalengan.

Nah, tentu sekarang Anda sudah paham mengenai dasar perhitungan anggaran biaya bangunan. Disebut dasar karena yang diulas di atas hanya sebatas kebutuhan bahan dan tukang. Masih banyak lagi kegiatan pra-rencana lain seperti mengatur jadwal pekerjaan agar pelaksanaan renovasi tepat waktu.  Siapkan alat tulis, gamabr desain, daftar harga, dan juga kalkulator. Mulailah berhitung!

disadur dari: http://www.tabloidrumah.com/?p=867

About rumahbpn